Wednesday, July 29, 2015

Avengers 2 Age of Ultron (2015)

Released
Country USA
Language
English
Genre
Director
Joss Whedon
Writers
Joss Whedon, Stan Lee (comic book), 1 more credit »
Starcast Robert Downey Jr., Chris Evans, Mark Ruffalo | See full cast and crew »
Rating imdb_icon.gif 8.5/10

Ratings: 8.5/10 from 32,154 users   Metascore: 72/100
Reviews: 173 user | 172 critic | 16 from Metacritic.com
Source Ryemovies
Review:
Perjuangan yang sedang dilakukan oleh Marvel sebenarnya bukan cuma pada usaha untuk memperluas cinematic universe milik mereka yang tahun ini resmi mengakhiri fase keduanya, tapi disisi lain Marvel juga terus berusaha mempertahankan standard yang telah mereka raih untuk kemudian naik ke level selanjutnya. Usaha tersebut yang terasa menarik karena ciri khas sebagai fun superhero yang telah lekat dengan mereka justru menjadikan film-film rilisan Marvel perlahan terasa serupa tapi tak sama. Avengers: Age of Ultron seperti sebuah déjà vu yang celakanya masih mampu berdiri tegak karena diramu dengan cermat.

Tony Stark (Robert Downey Jr) masih belum lepas dari sikap ambisius miliknya, dan kali ini sang Iron Man mencoba untuk menciptakan sebuah program yang lebih besar dan lebih kuat dari Jarvis. Celakanya proyek yang menggunakan tongkat milik Loki itu hanya ia lakukan bersama Hulk (Mark Ruffalo), sehingga ketika sedang santai seusai pesta Captain America (Chris Evans), Thor (Chris Hemsworth), Black Widow (Scarlett Johansson), Hawkeye (Jeremy Renner) dan anggota tim lainnya sangat terkejut ketika sosok misterius hasil proyek tadi bernama Ultron (James Spader) menghampiri mereka dan mengatakan siap untuk melindungi kedamaian dunia namun cara pertama yang ingin ia lakukan adalah dengan memusnahkan The Avengers.

Hal yang paling mengejutkan dari Avengers: Age of Ultron adalah sepintas ia masih akan membuat kamu menilainya sebagai aksi berkumpulnya superhero untuk menyelamatkan dunia dengan cara yang serius tapi santai, tapi ternyata dibalik itu Joss Whedon sejak sinopsis saja menjejali Age of Ultron dengan materi-materi yang terbilang rumit dan bukan tidak mungkin akan membuat beberapa diantara kamu terkejut ketika mereka hadir. Dan semakin seru ketika hal berbeda yang mencoba menjadikan cerita dan karakter terasa lebih gelap itu tampil dengan cara yang berani.

Masih dipenuhi dengan lelucon kecil dalam jumlah besar yang oke tapi alur cerita sendiri terasa sangat jauh lebih liar jika dibandingkan dengan The Avengers tiga tahun lalu, dan disitu pula alasan mengapa Avengers: Age of Ultron tidak berhasil duduk sejajar dengan kakaknya tersebut. The Avengers itu ibarat pesta, menyaksikan superhero berkumpul jadi satu lalu menjalankan sebuah misi yang simple jika menilik kekuatan yang mereka miliki. Tujuan utamanya sederhana lalu fokusnya juga jelas, disamping itu kita menemukan interaksi antar karakter yang belum begitu matang sehingga kejutan-kejutan kecil terasa sangat mengasyikkan.

Hal itu sepertinya diantisipasi oleh Joss Whedon disini sehingga ia mencoba sedikit memutar arah untuk memberikan kita cerita yang lebih dalam bukan hanya satu atau dua tapi bagi mayoritas anggota utama The Avengers dan itu tanpa mengurangi kenikmatan dari jualan utama lain yang dinantikan oleh penonton, sajian visual yang menarik dipenuhi denga action sequence yang oke.

Masalahnya disini adalah usaha Joss Whedon tadi tidak pernah berdiri kokoh ketika Avengers: Age of Ultron berakhir. Jadi tidak perlu heran jika kamu akan merasa anti-klimaks ketika Iron Man, Thor, dan Captain America kembali berpisah dengan air mata gentlemen mereka, karena sejak awal taruhan “menyelamatkan dunia” yang mereka usung tidak pernah meraih titik tertinggi. Ini lebih terasa seperti latihan bagi The Avengers dan itu hadir dengan formula yang telah mereka pahami betul, lalu di tengah cerita diselingi dengan usaha menghadapi self evil yang digunakan dengan baik untuk memberikan kamu beberapa kejutan menarik dari beberapa karakter.

Isu-isu tentang mankind yang di usung memang terhitung oke walaupun lagi-lagi tidak pernah menciptakan hit yang tinggi untuk membuat penonton menelisik sedikit lebih dalam. Disini Joss Whedon seperti testing the water, ia mencoba membuat tone cerita lebih serius tapi tidak pernah mempermainkan penonton terlalu lama dibagian tersebut, beberapa akan merasa itu pilihan yang tepat tapi tidak sedikit pula yang akan merasa kesal karena tone yang sedikit lebih gelap itu punya potensi untuk menjadi sebuah kejutan yang manis.

Kamu pasti akan pulang dengan senyuman puas tapi jangan kaget jika senyuman tadi juga ditemani dengan sedikit rasa hampa. Jika tiga tahun lalu ketika Iron Man sukses melakukan penyelamatan menegangkan kita akan bertepuk tangan penuh gembira, disini ketika Captain America menyapa The Avengers kita akan bertepuk tangan karena mereka berhasil menjalankan tugasnya. V

isual efek yang sangat memukau, kinerja akting juga oke terlebih dengan tik-tok pada bagian lelucon, beberapa gambar cantik yang mampu membuat kamu bergumam wow, semuanya digerakkan dengan cepat, tapi ada rasa hampa ketika ia berakhir, karena meskipun berhasil menciptakan pondasi bagi masa depan waralaba mereka Avengers: Age of Ultron secara mengejutkan tidak memberikan kejutan yang mengejutkan.
Sumber
Prekuel:
The Avengers (2012)

File Format: mp4
Video Encode: AVC (H.264)
Audio Encode: AAC (Stereo)
Resolusi: 360p
Durasi: 2 Jam - 13 Menit - 25 Detik
Ukuran: 334 mb
SS:

Download Single Link:
UC: https://userscloud.com/h0nku5c8xzwt
TF: http://www.tusfiles.net/7cy6ym1vmrkb
UF: http://sht.io/1pd1
SF: http://sht.io/1pd2
UP: http://upx.nz/YHMOnl

Subtitle: ts-av2-2015.zip | MoreBahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By: hafhaf

The Avengers (2012) bluray

Released
Country USA
Language
English | Russian
Genre
Director Joss Whedon
Writer
Joss Whedon (screenplay), Zak Penn (story), 1 more credit »
Starcast Robert Downey Jr., Chris Evans, Scarlett Johansson | See full cast and crew »
Rating imdb_icon.gif 8.2/10
Source Ryemovies
Review:
Ketika berhubungan dengan film-film yang dirilis pada masa musim panas, Hollywood tahu bahwa mayoritas para penikmat film dunia menginginkan film-film dengan kualitas penceritaan yang sederhana namun dengan pengemasan yang super megah. Film-film yang murni dibuat dengan tujuan hiburan semata. The Avengers – sebuah film yang menempatkan para pahlawan Marvel Comics seperti Captain America, The Black Widow, Iron Man, Hawkeye, Thor dan Hulk berada pada satu jalan penceritaan yang sama – jelas adalah salah satu film musim panas dengan nilai hiburan yang pastinya tidak dapat diragukan lagi.

Namun, di bawah pengarahan Joss Whedon (Serenity, 2005), yang bersama dengan Zak Penn (The Incredible Hulk, 2008) juga menulis naskah cerita film ini, The Avengers berhasil tampil lebih dari sekedar sebuah summer movie. Fantastis dalam penampilan, tetapi tetap mampu tampil membumi dengan kisah yang humanis nan memikat. Jika karakter Loki (Tom Hiddleston) padaThor (2011) digambarkan hanya sebagai nemesis bagi saudara angkatnya, Thor (Chris Hemsworth), maka pada The Avengers karakter tersebut mendapatkan porsi cerita yang lebih besar dan menjadi karakter antagonis utama dengan menjadi ancaman utama bagi peradaban manusia di muka Bumi.

Dikisahkan, agensi mata-mata S.H.I.E.L.D. yang dipimpin oleh Nick Fury (Samuel L. Jackson) sedang bereksperimen dengan Tesseract, sebuah benda asing berbentuk kubus yang diduga menyimpan potensi kekuatan yang begitu besar. Secara tiba-tiba, Tesseract tersebut kemudian bekerja dan membuka portal penghubung antara Bumi dengan dunia Asgard. Terbukanya portal tersebut kemudian dimanfaatkan oleh Loki untuk berkunjung ke Bumi sekaligus merebut Tesseract dan menjadikannya senjata untuk menyerang Thor.

Dalam penyerangannya, Loki berhasil menyihir jalan pemikiran beberapa anggota S.H.I.E.L.D., seperti Dr. Erik Selvig (Stellan Skarsgård) dan agen Clint Barton/Hawkeye (Jeremy Renner), untuk memihak kepadanya. Guna menangani serangan tersebut, Nick Fury kemudian berinsiatif untuk membentuk kembali proyek The Avengers, sebuah proyek dimana S.H.I.E.L.D. menyatukan beberapa orang berkekuatan super untuk melindungi keamanan dunia.  Fury kemudian mengumpulkan agen Natasha Romanoff/The Black Widow (Scarlett Johansson), Bruce Banner/Hulk (Mark Ruffalo), Steve Rogers/Captain America (Chris Evans) dan Tony Stark/Iron Man (Robert Downey, Jr.).

Jelas, menyatukan beberapa karakter yang memiliki kekuatan (dan ego) hebat bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah. Fury bersama dengan dua agen kepercayaannya, Phil Coulson (Clark Gregg) dan Maria Hill (Cobie Smulder), mengalami masa-masa yang sulit untuk menyatukan mereka. Apalagi setelah Thor datang dari Asgard dan juga berniat untuk melumpuhkan Loki. Namun, Fury harus berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan Bumi dari Loki yang telah memulai gerakannya untuk mengambil alih kekuasaan planet ini.

Keputusan untuk menyerahkan kursi kepemimpinan proses produksi The Avengers kepada Joss Whedon mungkin adalah salah keputusan tercerdas yang pernah diambil oleh Marvel Studios. Whedon bukanlah sosok asing bagi Marvel. Merupakan seorang penggemar buku-buku komik, Whedon pernah menulis 24 seri komik Astonishing X-Men untuk Marvel Comics. Kecintaan Whedon yang mendalam terhadap dunia komik itulah yang setidaknya telah memberikan bekal bagi Whedon untuk mengelola jalan cerita The Avengers, sebuah kisah kepahlawanan dengan potensi adegan aksi yang besar namun tetap berhasil menyelipkan pesan-pesan humanis di beberapa bagian ceritanya.

Penulisan Whedon untuk jalan cerita dan dialog setiap karakter yang hadir di The Avengers terasa begitu alami, segar dan cerdas – khas penceritaan dan dialog-dialog Whedon yang biasa ditemukan pada serial televisi Buffy the Vampire Slayer (1997 – 2003) ataupun Dollhouse (2009 – 2010). Yang terutama, The Avengers terasa begitu bebas dari segala hal klise dan bodoh yang biasa ditemukan pada banyak film-film bertema superhero. Beberapa bagian dialog memang tampil sedikit inferior dari adegan-adegan aksi dan menyebabkan ritme penceritaan terasa menurun beberapa kali, namun kelemahan tersebut sama sekali tidak pernah membuat The Avengers menjadi terkesan menjemukan.

Dengan banyaknya karakter superhero yang dihadirkan dalam satu alur cerita, Whedon juga berhasil membagi rata porsi penceritaan bagi setiap karakter. Setiap karakter dihadirkan dengan porsi kepentingan cerita yang merata, walaupun beberapa diantaranya berhasil tampil menonjol. Karakter Tony Stark/Iron Man, Bruce Banner/Hulk dan Natasha Romanoff/The Black Widow seringkali tampil mencuri perhatian lebih ketika karakter mereka hadir dalam sebuah adegan.

Pada banyak bagian, hal tersebut disebabkan oleh dialog-dialog yang diberikan sekaligus karakterisasi pada ketiga tokoh tersebut lebih berwarna jika dibandingkan dengan karakter-karakter lainnya. Pada bagian lainnya, kemampuan setiap pemeran untuk menghidupkan karakter yang mereka perankan juga membuat setiap karakter yang hadir di The Avengers terasa lebih hidup.

Berbicara mengenai departemen akting The Avengers, Whedon mendapatkan dukungan yang sangat sempurna dari setiap jajaran pemeran film ini. Nama-nama seperti Robert Downey, Jr., Chris Evans, Scarlett Johansson, Jeremy Renner, Mark Ruffalo, Chris Hemsworth hingga Tom Hiddleston dan Samuel L. Jackson mampu memberikan penampilan terbaik mereka. Akibat karakter mereka yang ‘lebih menonjol’ dibandingkan karakter lainnya, wajar jika kemudian penampilan Downey, Jr., Johansson dan Ruffalo akan lebih banyak mendapatkan perhatian penonton. Khususnya Ruffalo, seorang aktor spesialis karakter drama yang kali ini harus menangani sebuah karakter superhero. Dan nyatanya, Ruffalo mampu menanganinya dengan baik – bahkan lebih baik dari beberapa aktor yang pernah memerankan karakter Bruce Banner/Hulk di layar lebar sebelumnya.

Seperti halnya film-film karya Marvel Studios lainnya, penampilan audio visual The Avengers juga mampu tampil prima. Paduan special effect yang kuat pada penampilan visual dan audio yang menggelegar akan mampu membuat pengalaman penonton dalam menikmati The Avengers terasa maksimal. Tata musik arahan Alan Silvestri juga berhasil masuk dan meningkatkan ketegangan emosi di banyak adegan film.

The Avengers juga dirilis dalam format 3D, sebuah format yang sayangnya tidak begitu teraplikasikan dengan baik pada film ini. Tampilan 3D The Avengers memang adalah sebuah hasil konversi. Wajar jika kemudian penampilan 3D The Avengers tidak begitu maksimal dan kurang begitu mampu untuk memberikan nilai lebih pada The Avengers secara keseluruhan.

Jelas adalah sangat menyenangkan untuk menyaksikan sebuah film blockbuster yang masih mau menyempatkan diri untuk membenahi penulisan karakterisasi, cerita dan dialog serta tidak melulu mengutamakan penampilan special effect yang bombastis. Dengan arahan dari Joss Whedon, The Avengers mampu mencapai kualitas penceritaan tersebut: tetap berhasil tampil spektakuler sebagai sebuah film musim panas, namun mampu tampil lebih kuat dengan sisi penceritaan yang lebih tertata. Penulisan serta pengarahan cerita yang kuat dari Whedon tidak hanya membuat The Avengers menjadi film adaptasi Marvel Comics terbaik yang pernah dihasilkan, namun film ini jelas telah meningkatkan standar kualitas film-film bertema superhero secara keseluruhan. Bravo!
Sumber

File Format: mp4
Video Encode: AVC (H.264)
Audio Encode: AAC (Stereo)

Resolusi: 360p

Durasi: 2 Jam - 22 Menit - 54 Detik

Size: 420 mb

SS:

Download Single Link:
Subtitle: br-avengers-2012.zip | MoreBahasa: Indonesia [Manual]
Format : SUB & SRT
Subtitle By: Pein Akatsuki